ULANGAN 26 Ayat 1-4:

Nast untuk bahan kotbah pada hari minggu tgl. 17 Juli 2011 tertulis didalam kitab Ulangan 26,1-4. Menurut Kitab Perjanjian Lama yang berbahasa Junani di Septuaginta (LXX) , Kitab Ulangan ini dituliskan namanya: DEUTRONOMION Dan didalam Vulgata tertulis Deutronomium artinya : Pengulangan Hukum Taurat kemungkinan dari pengertian inilah sehingga didalam Alkitab bahasa Indonesia disebutkan Kitab Ulangan dan didalam Alkitab bahasa Batak (BIBEL) disebutkan:  5 Musa.  Susunan kitab Ulangan ini adalah sebagai berikut: Pasal 1-11:  Amanat Musa yang bersifat Pendahuluan; 12-26: Pemberian Hukum yang dilakukan Musa dihadapan bangsa Israel.; 27-34: Cerita dan Amanat serta berita tentang Kematian Musa.

Jadi Nast kita adalah golongan ke II Pemberian Hukum Pasal 12-26. Didalam Kitab Ulangan 26 ayat 17 C tertulis: dan engkaupun akan hidup menurut jalan yang ditunjukkanNya dan akan berpegang pada ketetapan, Perintah, serta peraturanNya.……..dst; Jadi Hukum yang diberikan itu ada tiga jenis yaitu: Peraturan, Ketetapan, dan Perintah.

ad. Ketetapan: Didalam bahasa Ibrani ketetapan disebutkan “khoq” kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia artinya “Mengukir” Maksudnya bahwa Khoq itu adalah peraturan yang permanent. Khoq atau ketetapan itu berbeda dengan peraturan. Dimana Ketetapan itu terkait dengan  hati nurani dan Allah. Sedangkan peraturan berkaitan dengan pengadilan. Jadi sebagai pedoman bagi hakim pada waktu mengadili perkara dipergunakan  adalah peraturan-peraturan.

ad. Perintah: Perintah dipergunakan pada salah satu jenis. Tetapi perintah itu dibatasi artinya tidak bersifat perintah mengenai suatu kewajiban yang abadi. Artinya kalau sudah dilaksanakan perintah itu maka untuk selanjutnya tidak ada lagi, karena isi perintah itu sudah dipatuhi. Misalnya diperintahkan untuk menghancurkan kuil-kuil orang kafir. Jadi kalau kuil orang kafir itu sudah dihancurkan berarti tidak ada lagi isi perintah untuk menghancurkan kuil orang kafir.

ad. Peraturan: Jenis Peraturan ini kita baca didalam Keluaran 21. Kalau kita membaca Keluaran 21, Kita melihat peraturan itu berisi peraturan yang mengatur hak dan kewajiban seseorang dengan orang lain. misalnya: antara majikan dengan hamba.

Dari keterangan diatas maka nast kita didalam Kitab Ulangan 26 ayat 1-4 adalah termasuk ketetapan. Karena didalamnya hukum yang tertulis pada nast ini terkait dengan diri atau perilaku manusia denganAllah.                                                        Exegese (Tafsiran):

1-2: Apabila engkau telah sampai kepada Negeri yang diberikan…………dst. Dahulu setelah Tuhan Allah membubarkan rencana manusia yang akan membangun menara Babel, maka Keluarga Abram pergi kearah Ur kasdim, dan dari sanalah Abram dipanggil oleh Allah supaya keluar dan pergi ke tanah yang akan ditunjukkan oleh Allah.( Kejadian 12 ayat 1-5).Dimana tanah yang ditunjukkan itu masih belum diketahui oleh Abram. Tetapi ditahun kemudian tanah itu telah ditunjukkan oleh Tuhan dan akan diberikan kepada Keturunan Abram (Kejadian 17 ayat 8). Sekarang didalam Nast ini, Tuhan melalui Musa mengatakan apabila mereka masuk ke negeri yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu dan engkau mendudukinya dan diam disana. Artinya tanah itu adalah yang diberikan Tuhan bukan karena diwarisi dari Nenek moyangnya. Dahulu mereka tidak memiliki tanah apalagi  ketika masih berada dibawah kekuasaan perbudakan di Mesir   hanya sebagai budak, tetapi sekarang Tuhan sudah memberikannya kepada mereka menjadi tanah pusaka. Artinya tanah itu menjadi Hak milik mereka.Dimana mereka bebas memanfaatkan tanah itu dan tetap berdiam selama hidupnya. Mereka bukan lagi sebagai orang musafir dan bukan lagi seperti yang di Mesir berdiam ditempat tanah yang bukan miliknya.Ditempat tanah yang diberikan Tuhan itu bangsa Israel hidup sesuai dengan Perintah dan Peraturan serta ketetapan Tuhan (Baca Ulangan 4 ayat 1-2). Salah satu kewajiban yang ditetapkan oleh Tuhan bagi mereka ialah: Harus membawa hasil pertama dari bumi yang mereka kumpulkan.Bila kita perhatikan didalam Ulangan 14,22-29 istilahnya adalah persepuluhan. Demikian juga menurut kejadian 28,22 istilahnya persepuluhan. Tetapi didalam nast kita sekarang istilahnya adalah buah pertama. Perbedaan ini bukanlah perbedaan yang prinsipil melainkan hanya perbedaan istilah saja. Kalau disebut persepuluhan adalah hanya memperlihatkan secara rinci saja dan secara excak. Kalau buah pertama memang tidak terperinci berapa banyak jumlahnya. Tetapi menurut pendapat saya lebih baik buah pertama. Kalau istilah persepuluhan berarti jumlahnya sepersepuluh dari yang diperoleh dari hasil yang dicapai. Pada hal sudah lebih dahulu dinikmati hasilnya baru kemudian diberikan sepersepuluh. Tetapi kalau buah pertama bermaksud, yang pertama diutamakan adalah Tuhan Allah. Itulah sebabnya jangan kalau sisa-sisa atau setelah lebih puas dia menikmati kemudian diserahkan kepada Tuhan. Yaitu: Harus membawa hasil  pertama dari tanah yang telah diberikan Tuhan itu, haruslah menaruhnya didalam bakul, kemudian pergi ketempat yang akan dipilih Tuhan untuk membuat namaNya diam disana.Perlu kita ketahui bahwa yang harus dipersembahkan adalah hasil yang pertama dari tanah yang mereka diami.Artinya, bahwa hasil tanah yang mereka persembahkan adalah  yang belum pernah dinikmati. Artinya, dari hasil tanah itu yang lebih dahulu mencicipi ialahTuhan. Artinya bukan sisa-sisa yang  diberikan kepadaTuhan. Sebenarnya persembahan yang seperti ini disebut persembahan persepuluhan. Sekarang Nast ini perlu kita renungkan, bagaimanakah sikap atau keberadaan kita bila kita menyerahkan kepada Tuhan ? Apakah setelah lebih dahulu kita Nikmati hasil pekerjaan kita baru belakangan kita persembahkan kepada Tuhan ?

3-4:Didalam Nast ini diberitahukan bagaimana caranya untuk mempersembahkan buah pertama itu. Sesampainya kepada Imam haruslah engkau berkata kepadanya: AKU MEMBERITAHUKAN PADA HARI INI PADA TUHAN, ALLAHMU, BAHWA AKU TELAH MASUK KE NEGERI YANG DIJANJIKAN TUHAN DENGAN SUMPAH PERJANJIAN KEPADA NENEK MOYANG KITA UNTUK MEMBERIKANNYA KEPADA KITA. Maka Imam menerima bakul itu dari tanganmu dan meletakkannya di depan mezbah Tuhan AllahMu.

Jadi buah pertama yang dipersembahkan dan diberikan kepada imam, harus di sampaikan dengan pernyataan, bahwa buah pertama dipersembahkan itu adalah sebagai pertanda dan sebagai kesadaraan, bahwa itu sebagai jawaban kepada Tuhan Allah atas pemberiannya atau sebagai pertanda bahwa Tuhan telah menggenapi janjiNya yang diucapkanNya kepada Nenek moyangnya. Pernyataan ini perlu kita renungkan, bahwa apakah jawaban kita terhadap Tuhan bila janjinya telah digenapi didalam hidup kita ini. Mungkin kita memberikan buah pertama kepada Tuhan krena kita sudah beruntung atau sudah berhasil didalam pekerjaan kita. Hal ini perlu kita bandingkan dengan kebiasaan yang kita lakukan di Gereja kita dengan cara mengajukan lelang yang lebih tinggi. Apakah sewaktu kita melakukan lelang di Gereja itu dengan jutaan rupiah karena persaingan dengan anggota jemaat yang lain atau karena kita sudah merenungkan bahwa Tuhan Allah sudah menggenapi janjiNya didalam hidupku ! Tuhahn Allah itu sungguh baik, Dia tidak menghukum kita sesuai dengan perbuatan kita seperti di pengadilan. Tetapi dia menggenapi janjinya didalam Kejadian 3 ayat 15 sehingga Jesus disalibkan di Bukit Golgata. Apakah jawaban kita untuk itu ? A m i n. Tuhan Jesus membekati saudara.

Tentang pdtpsirait

Pendeta emeritus di Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP)
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s